MY ShoP

MY ShoP
Front Liner Gramedia Matos

Sabtu, 19 Februari 2011

CRACKING ZONE (RHENALD KASALI)


INDONESIA di awal abad 21: 180 juta ponsel di saku penduduknya, 50% di antaranya smart phone yang layak berinternet. Narsis tetapi nasionalis, yang jauh menjadi dekat—sementara yang dekat menjadi jauh, asyik sibuk sendiri, alay, multi tasking dan real time. Mereka adalah penopang ekonomi negara yang pada akhir tahun 2010 mencatatkan income/capita US$3,000. Inilah penduduk yang rakus mengkonsumsi apa saja, dari sepeda motor sampai voucher telepon dan makan seminggu sekali bersama keluarga di luar rumah.
Ditambah dengan kegiatan freemium. Produk premium-free of charge seperti Google, Yahoo!, Facebook, Wikipedia, Detik.com, Kompas Online, Kaskus dan sebagainya. Persaingan berubah. Puluhan cracker muncul memperbaharui bukan semata organisasi atau perusahaannya, melainkan industrinya. Membuat banyak orang kaget dan melawan. Langkahnya radikal, serangan baliknya juga radikal. Mereka menari dan berpesta di kebun-kebun Anda, tetangga yang baik hati tetapi pencuri.
Inilah buku perubahan yang dicari banyak orang untuk memperbaharui diri. Sebuah hasil kajian yang membukakan mata Anda dan membuat Anda ingin segera bertindak

VAMPIRE ACADEMY SERIES


Sinopsis buku 1: Vampire Academy

Lissa Dragomir adalah seorang Putri Moroi; vampir bernyawa yang mempunyai ikatan dengan dunia. Dia harus dilindungi dari ancaman Strigoi; vampir kejam dan berbahaya—yang tidak bisa mati.

Kekuatan manusia dan vampir berpadu dan tumbuh dalam diri Rose Hathaway, sahabat Lissa, menjadikannya seorang dhampir yang tangguh. Rose mempersembahkan hidupnya untuk melindungi Lissa, anggota terakhir dari klan Dragomir.

Bersama Lissa, Rose menjelajahi kehidupan berbahaya ini, terlibat percintaan terlarang, bermain-main dengan intrik politik Moroi, sambil tetap menjaganya, agar Strigoi tidak menjadikan Lissa salah satu dari mereka.

Terjemahan buku 1 nya akan diterbitkan oleh Matahati.

Sinopsis Buku 2: Frostbite

Serangan sejumlah Strigoi membuat Sekolah Vladimir waspada, dengan segelintir pengawal yang menjaganya--termasuk sang legenda Janine Hathaway.....Ibunya Rose yang menakutkan, yang bahkan tak pernah hadir untuknya.

Strigoi sudah semakin dekat, menyerang beberapa keluarga bangsawan Moroi. Ketika tiga murid melakukan serangan balik tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Rose merasa wajib membantu mereka dengan bantuan Christian, salah satu bangsawan dari klan Ozera. Namun kali ini, Rose harus kehilangan seseorang yang dia sayangi untuk selamanya....


Sinopsis Buku 3: Shadow Kiss

Rose Hathaway tahu bahwa mencintai sesama pengawal merupakan hal yang terlarang. Sahabatnya, Lissa--satu-satunya pewaris klan Dragomir--harus selalu diutamakan. Tapi Rose jatuh cinta dengan salah satu pengawal, sehingga ia pun melanggar peraturannya sendiri.

Tetapi setelah pertama kali membunuh Strigoi, Rose tidak pernah merasa baik. Sesuatu yang 'gelap' perlahan tumbuh dalam pikirannya, dan hantu-hantu muncul untuk memperingatkannya bahwa sekolah dalam bahaya. Dan sekarang, seorang musuh lama Lissa dan Rose, mencoba bangkit kembali, dan keregangan dalam politikal kehidupan Moroi menjadi lebih buruk daripada sebelumnya.

Berbohong pada Lissa mengenai kisah cintanya akan membuat persahabatan mereka renggang, tetapi ada yang lebih dari itu, ada hal lain yang akan membuat persahabatan mereka putus untuk selamanya. Sesuatu yang lebih buruk, yang lebih berbahaya. Saat ini Rose harus memilih antara cinta, kehidupan, dan dua orang yang paling dia sayang seumur hidupnya....tapi apakah pilihan Rose akan tetap membuat kedua kesayangannya itu selamat?

1 PEREMPUAN 14 LAKI - LAKI


Perlu 14 laki-laki untuk menulis buku ini dan hanya 1 perempuan untuk mengisahkannya…

“Kita bisa memesan bir, namun kita tak bisa memesan takdir.”
Agus Noor
“Onggokan baju-baju kami tengah berpelukan di atas lantai.”
Arya Yudistira Syuman
“Sejak Mas Gun menyandang gelar anumerta dalam urusan ranjang, ia selalu gugur sebelum berperang.”
Butet Kartaredjasa
“Masih jelas benar mata-mata tanpa bola mata hitam merubuhkan patung. Membakar kampung.”
Enrico Soekarno
“Tanpa hilang senyum, ia minta saya berakting di depan kamera untuk sebuah adegan mesum.”
Indra Herlambang
“Kadang sunyi. Kadang ramai seperti adegan ranjang yang melibatkan borgol, topeng, dan cemeti.”
JRX
“Melongo di depan buku berdebu nostalgia masa lalu kala masih berseragam putih biru. Buat gue it sucks!”
Lukman Sardi
“Sepasang jari bersayap, terbang mengitari seputar celana yang dipakai laki-laki dengan dada telanjang.”
Mudji Sutrisno
“Ayu tak segan mengajak kencan duluan. Dan laki-laki tak kuasa menolak seperti kucing disodori ikan.”
Nugroho Suksmanto
“Antonio tidak ingin perlahan mati. Tidak tanpa Roselyn, yang ia tahu akan berakhir sunyi.”
Richard Oh
“Aku mencintaimu maka aku ada! Aku mencintaimu maka aku membunuhmu!”
Robertus Robet
“Setiap kali kita bertemu, aku menabung rindu.”
Sardono W. Kusumo
“Di tangan Raditya, gitar jadi berbicara. Dan saat Raditya memetik putingnya, Prita melambung ke angkasa.”
Sujiwo Tejo
“Tubuh saya seakan lumpuh saat tubuhnya menyatu ke tubuh saya seluruh dan penuh.”
Totot Indrarto