MY ShoP

MY ShoP
Front Liner Gramedia Matos

Kamis, 10 Maret 2011

Remaja Tajir, Why Not?

SINOPSIS



Tiga sahabat ketemunya di komunitas TDA. Itu lho komunitas pengusaha-pengusaha muda. Karena cocok, mereka sering saling curhat dan diskusi soal bisnis. Jadilah mereka trio kwek-kwek. Tapi berhubung trio kwek-kwek udah dipake jadi nama grup nyanyi artis cilik, mereka memutuskan namanya jadi trio gambreng (semoga belum ada yang nyamain).

Seperti kamu-kamu yang masih belia, seribu pertanyaan pun muncul di pikiran mereka, kapan ya aku mulai bisnis? Kapan bisa bayar kuliah atau sekolah sendiri? Beli HP terbaru? Nraktir temen-temen dari uang saku sendiri? Tapi ngapain juga mesti usaha? Usiaku kan masih muda, mama dan papa selalu ngasih apa aja yang aku mau. Lagian, gimana ya caranya untuk jadi bisnismen? Mau tau jawabannya? Yukk.. Mariii.. Beli buku ini*...

(*=dilarang minjem)


Buku yang menarik dan inspiratif, dengan gaya bahasa khas 'Anak Muda' bener-bener bisa menginspirasi untuk jadi pengusaha selagi muda. Wajib dibaca buat yang mau kaya selagi muda!!! Oh ya, satu kalimat lagi, tulisannya bener-bener baguuus! Saya yakin ini buku pasti bakal best seller.
--Hendy Setiono. Pengusaha Muda, Pemilik 650 Outlet Kebab Turki Baba Rafi

Sejak di-upload cover dan sebagian isinya di facebook, yang pesan buku ini mulai usia SD juga ada lho, karena anak SD juga sudah ada yang belajar usaha. Buat yang remaja, jangan mau kalah sama anak SD.
--Sofie Beatrix. Penulis, Pemilik Agency Penulis Asa Media
Harga:Rp 40.000,- *






Eclair

Penulis: Prisca Primasari
Harga: Rp36.000

Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon-berbagi eclair, ditemani matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya.

Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita. Seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.

Aku rebah di tanah. Memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. "Aku masih di sini," bisikmu, selirih angin sore. Tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti, kau benar-benar tiada?